Minggu, 02 September 2012

Dari Shunga ke Hentai



Meski dilarang, para samurai, pedagang, dan ibu rumah tangga diperkirakan “mengoleksi” gambar erotis. 

Oleh: Darma Ismayanto

KETELANJANGAN, di masa Tokugawa atau dikenal juga sebagai era Keshogunan Edo (1603-1868), adalah hal lumrah. Di tempat pemandian umum, lelaki dan perempuan bisa melihat alat kelamin masing-masing dengan jelas. Tak heran jika seni shunga menjadi populer. Dengan tampilan model berpakaian lengkap, ia terasa lebih estetis dan menggoda alih-alih erotis. 
Shunga merupakan karya seni lukis bergaya ukiyo-e yang menggunakan metode printing kuno, dengan woodblock atau papan kayu sebagai plat cetakan. Biasanya menampilkan adegan percintaan lelaki dan perempuan, perempuan dan perempuan, lelaki dewasa dengan lelaki dewasa, atau lelaki dewasa dengan pemuda. Shunga merupakan istilah Jepang yang merujuk pada “gambar erotis”. Secara harafiah shunga berarti “gambar musim semi” sementara “musim semi” sendiri dalam bahasa Jepang merupakan eufemisme dari seks.
Di Jepang, diperkirakan aktivitas membuat gambar erotis ini sudah ada sejak periode Heian (794-1185). Zhou Fang, pelukis besar erotis Tiongkok yang hidup masa Dinasti Tang (618 – 907) , diduga memberi pengaruh besar. Seperti tertulis dalam buku Dreams of spring: erotic art in China from the Bertholet Collection, karya Yimen, Rev; Bertholet Collection, Zhou fang adalah pelukis erotis China yang hidup ada masa tahun 800-an. Dia, seperti artis erotis kebanyakan pada masanya, cenderung melebih-lebihkan ukuran organ genital dalam karyanya. Inilah yang kemudian menjejak dalam karya-karya shunga.
Shunga juga terinspirasi ilustrasi di dalam buku pedoman manual pengobatan Tiongkok yang disadur dan terbit pada masa Muromachi (1336-1573). Salah satunya seperti Isho Taizen karya Asaino Sozui yang dirilis pada 1528 dan digarap dengan metode printing, lengkap dengan ilustrasi.
Sekalipun sudah berkembang, shunga baru mencapai popularitas pada masa Edo. Karenanya, pada 1661, Keshogunan Tokugawa mengeluarkan dekrit yang berisi pelarangan buku-buku erotis yang dikenal dengan sebutan kĊshokubon. Shunga tetap diproduksi, namun dalam pengawasan yang ketat. Pelarangan terhadap shunga, memang kerap diterapkan pemerintah Jepang, namun tidak ada yang pernah benar-benar efektif.
Saat diterapkannya Reformasi Kyoho pada 1722, dekrit pelarangan terhadap buku dan karya cetak lainnya, mengharuskan nama penerbit dan penulis atau seniman tercantum pada cetakan. Hal ini tentu saja teramat mudah diakali, penerbit dan seniman tinggal tidak mencantumkan nama mereka pada karya, tujuannya menghindari tuntutan hukum dari pemerintah dan rasa “malu” yang dapat membahayakan karier. Atau para seniman biasanya mengakali dengan menyarukan nama mereka di dalam subjek yang terdapat pada gambar (seperti kaligrafi pada kipas yang dipegang oleh pelacur). Shunga pun tetap beredar, meski secara underground
Penerapan dekrit Reformasi Kyoho pun sebenarnya tidaklah pernah benar-benar keras. Seniman Suzuki Harunobu dan Kory Sai tetap menuliskan nama mereka pada karya, dan tidak pernah mendapat hukuman apa pun.
Pelarangan paling ketat diterapkan saat Reformasi Kansei, pada 1790. Tidak boleh ada buku terbitan baru saat itu, temasuk shunga, kecuali buku-buku yang dianggap bernilai positif oleh pemerintah. Seperti tulis G.C Uhlenbeck pada esainya “Erotic Fantasies of Japan: The World of Shunga”, yang terangkum di dalam buku Japanese Erotic Fantasies: Sexual Iamgery of The Edo Period (2005), bahwa sebuah penerbit terkenal Tsutaya Juzaburo pada 1791 terpaksa harus merelakan kehilangan separuh kekayaannya akibat denda karena menerbitkan tiga sharebon (genre sastra pra-modern Jepang. Plot berkisar tentang humor dan hiburan). Sedang penulisnya Santo, Kyo, dan Den terkena hukuman 50 hari penjara.
Di periode awal shunga dibuat dalam dua warna, hitam-putih. Metode pewarnaan mulai dipakai sejak 1744 meski terbatas pada halaman tertentu. Dua dekade kemudian shunga berwarna menjadi marak. Namun lebih banyak karya shunga diproduksi dengan metode lama karena biayanya lebih ringan dan menyangkut selera.
Seni shunga dibuat dan dijual dalam bentuk lembar per lembar tapi seringkali dalam bentuk buku –dinamakan enpon. Shunga juga dibuat dalam bentuk gulungan yang dinamakan kakemono-e. Sebagian besar dicetak di Edo, tapi ada juga yang dibuat di Kamigata (Osaka dan Kyoto). Shunga yang dihasilkan di Edo cenderung kaya warna daripada yang diproduksi di Kyoto dan Osaka. Terutama karena perbedaan dalam rasa estetika antara daerah- bila Edo lebih suka bermain warna-warna cerah dan berani, maka Kamigata lebih suka warna “kalem”.
Karakter-karakter yang tampil dalam shunga sangat bervariasi mulai dari petani, pengrajin, dan pedagang, hingga pelacur. Lucunya, terkadang hadir juga karakter orang asing berkebangsaan Jerman atau Portugis. Para penikmat dapat mengenali figur dalam gambar lewat pakaian yang dikenakan. Itulah salah satu alasan kenapa figur dalam shunga, meski digambarkan tengah bercinta, kerap digambarkan berpakaian lengkap. Yang menarik, karakter tokoh sedang bercinta kerap ditampilkan dengan bentuk kelamin esktrabesar, sebesar kepala. Selain untuk mempertegas visibilitas konten seksual secara eksplisit, ini dimaksudkan pula sebagai bunga artistik. Alat kelamin dianggap seniman ukiyo-e sebagai “wajah kedua”, yang mengekspresikan gairah hidup.
Meski dilarang, di zaman Edo hampir semua lelaki dan perempuan dewasa “menikmati” shunga. Bahkan ada sebuah tahayul yang berlaku di tengah masyarakat Jepang kala itu bahwa shunga dapat menjadi jimat keberuntungan bagi samurai untuk menghindar dari kematian. Ia juga dapat dijadikan jimat untuk melindungi rumah dan gudang pedagang dari bahaya  kebakaran.
Dalam buku Sex and the Floating World: Erotic Images in Japan, 1700-1820, Timon Screech mengatakan, pada masa itu perempuan dewasa yang membeli shunga biasa beralasan  menggunakannya sebagai jimat untuk melindungi rumah dari kebakaran. Selain itu, tulis Timon, shunga begitu populer di periode itu karena, tak seperti lukisan yang berharga mahal dan perlu perawatan, shunga yang yang dibuat dengan teknik cetak harganya lebih murah dan terjangkau –meski ada juga shunga yang berharga mahal.
Karya shunga sangat bervariasi dalam masalah kualitas dan harga. Para seniman yang sudah memiliki nama dapat menjual karya mereka dengan harga mahal. Di antara seniman ukiyo-e terkemuka adalah Katsushika Hokusai. Karyanya “The Dream of the Fisherman's Wife” melegenda hingga saat ini. Ada juga Hishikawa Moronabu, Miyagawa, issho, Yanagawa Shigenobu, dan Chobun Saeshi.
Shunga seringkali dijadikan buku panduan seksual bagi remaja dan gadis dari keluarga-keluarga terhormat. Majella Murno dalam Masterclass: Understanding Shunga. A Guide to Japanese Erotic Art menulis, shunga kerap dijadikan sebagai hadiah pada calon pasangan pengantin sebelum mereka menikah. Isinya petunjuk cara-cara melakukan hubungan seksual.
Popularitas shunga mulai memudar saat memasuki masa Meiji (1868–1912). Pengaruh Barat dan teknologi, terutama fotografi, membuat shunga kalah bersaing dalam menampilkan gambar erotis. Tapi shunga di kemudian hari menjadi inspirasi bagi perkembangan seni anime dan manga yang tumbuh dalam periode modern di Jepang.
Manga atau anime adalah istilah bahasa Jepang yang merujuk pada komik atau kartun. Manga modern mulai populer di beberapa negara selepas Perang Dunia II. Karya manga terkenal saat itu adalah Mighty Atom, yang setelah bermigrasi ke Amerika pada 1951 dikenal dengan komik Astro Boy, karya Osamu Tezuka.
Shunga juga menjejak pada karya manga atau anime bergenre hentai, sebuah kata dalam bahasa Jepang yang memiliki arti “penampilan aneh” atau “abnormalitas”. Dalam percakapan sehari-hari, hentai sering digunakan di banyak negara selain Jepang untuk menyebut game, anime, atau manga yang menampilkan adegan seksual atau pornografi. Selain sama-sama memuat hal berbau erotisme, pengaruh shunga pada hentai terlihat pada tampilan alat kelamin tokoh yang kerapkali digambarkan berukuran ekstrabesar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar